Category Archives: Uncategorized

Pelaksanaan MPLS angkatan 2018-2019

LATAR BELAKANG

Adanya perbedaan pola dan kebiasaan yang dialami peserta didik pada saat di SMP/MTs dengan suasana yang baru khususnya di SMK Negeri 7 BURU ini, tentunya menyebabkan peserta didik harus mampu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang baru dialaminya. Proses penyesuaian diri tersebut mungkin akan lebih terasa sulit dijalani oleh peserta didik pada minggu pertama memasuki jenjang pendidikan yang baru. Keadaan yang demikian, apabila dibiarkan secara terus menerus akan berdampak negatif terhadap perkembangan peserta didik itu sendiri, bahkan dapat berpengaruh terhadap kelancaran dalam belajar.

Sebagai upaya mengantisipasi hal tersebut, perlu adanya suatu kegiatan yang bisa mengantarkan peserta didik baru ke arah  pengenalan sekolah  dalam berbagai aspek  secara singkat sebagai bekal awal untuk menghadapi perjalanan selanjutnya di SMK Negeri 7 BURU. Program yang dapat dilaksanakan untuk menjawab persoalan tersebut adalah MasaPengenalanLingkunganSekolah (MPLS) Bagi Peserta Didik Baru.

DASAR HUKUM

  1. Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan ;
  2. Peraturan mentari Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan ;
  3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan ;
  4. Permendikbud-no-14-tahun-2018-tentang-ppdb
  5. NAMA KEGIATAN

Kegiatan rutin di awal tahun pelajaran ini bernama :

MASA PENGENALAN LINGKUNGAN SEKOLAH (MPLS) BAGI PESERTA DIDIK BARU TAHUN PELAJARAN 2017-2018

  1. TEMA KEGIATAN

Meningkatkan Sikap Religius, Nasionalisme Dan Kemandirian Dalam Menghadapi Era Global

TUJUAN

  1. Tujuan Umum
  • MPLS bertujuan memberikan kesan positif dan menyenangkan kepada peserta didik baru tentang lingkungan sekolahnya.
  1. Tujuan Khusus
  • Membantu peserta didik baru mengenal lebih dekat dengan lingkungan sekolah.
  • Mendorong peserta didik baru bersikap pro aktif dalam mengenali guru , karyawan dan kakak kelasnya
  • Membantu peserta didik baru agar mampu beradaptasi dan menyatu dengan warga sekolah dan lingkungan sekolah
  • Membantu peserta didik baru agar mengetahui hak dan kewajibannya sebagai warga sekolah
  • Membantu peserta didik baru agar bertanggung jawab terhadap lingkungan sekolah
  • Memahami lingkungan sekolah dalam rangka pelaksanaan Wawasan Wiyata Mandala, sehingga fungsi warga sekolah dapat mendukung terwujudnya tujuan pendidikan secara komprehenshif
  • Memotivasi peserta didik baru agar bangga terhadap sekolahnya

HASIL YANG DIHARAPKAN

  • Terbentuknya peserta didik baru yang mampu beradaptasi dengan lingkungan SMK Negeri 7 BURU secara baik dalam berbagai aspek.
  • Terciptanya suasana educatif yang kondusif
  • Tertanamnya mental kesiapan peserta didik baru dalam menghadapi kegiatan pembelajaran dan persaingan secara sehat di SMK Negeri 7 BURU
  • Terciptanya suasana persaudaraan yang mengembangkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan
  • Terbentuknya mental kompetitif dan semangat tinggi dalam mencapai prestasi akademik maupun non akademik

PELAKSANAAN KEGIATAN

  • Pelaksana Kegiatan : Kegiatan ini dilaksanakan oleh  Panitia Pelaksana MPLS SMK Negeri 7 BURU .
  • Tempat Kegiatan : Kegiatan ini dilaksanakan di SMK Negeri 7 BURU Jalan Smk7  1 Namlea 97571
  • Waktu Kegiatan : Kegiatan ini dilaksanakan pada hari, tanggal  : Kamis, Jum’at dan Sabtu, 28, 29 dan 30 Jun i 2018 mulai pukul 07.30 s/d 12.00

PESERTA

  • Diikuti Oleh 216 Peserta terdiri dari
    • Program Keahlian Asisten Keperawatan 70 siswa
    • Program Keahlian Multimedia 35 Siswa
    • Program Keahlian Teknik Konstruksi  & Properti 36 Siswa
    • Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan 36 Siswa
    • Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan  36 Siswa

PRESIDEN DORONG PENDIDIKAN KEJURUAN – www.ditpsmk.net

Situs Resmi Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Sumber: PRESIDEN DORONG PENDIDIKAN KEJURUAN – www.ditpsmk.net

Konteks

google-site-verification=gF5i4RV5mWbSieeKIYtpiIaSqup5f9QTIx9gxNYZ0ms

Konteks – Koran Sindo

25 February, 2016 , by Rumah Perubahan

Mungkin karena puluhan tahun hidup dalam pragmatisme Orde Baru, kita jadi kesulitan untuk melihat jauh kedepan. Jarak pandang kita kebanyakan menjadi tinggal satu-dua tahun ke depan.

Keluar dari Orde Baru, bukannya lebih baik, kita cenderung menjadi lebih pragmatis lagi. Rencana jangka panjang sudah tidak ada lagi, tolok ukur kinerja apa pun dihitung tahunan. Semua orang ingin quick results. Kita malas baca berita yang panjang karena begitu banyak yang bisa menyajikan kultwit yang ringkas, atau cukup baca SMS atau pesan lewat WA yang singkat.

Malas baca buku, hasil kajian, dan segala yang berat. Pragmatisme juga membuat kita kerap kesulitan untuk melihat dan memahami konteks yang luas dan berjangka panjang. Indonesia begitu kaya dan beragam, tapi kebanyakan dilihat dalam konteks Jawa. Lalu yang miskin itu dilihat ada di luar Jawa, berapa pun masih banyaknya orang miskin yang tinggal di pulau terpadat ini.

Lebih parah lagi, meski sudah bermobil, kebanyakan juga mengakunya rakyat kecil yang layak dipandang sebagai kaum miskin yang berhak ini dan itu. Bahkan tarif tol pun dilarang naik, karena katanya konsumen bermobil yang gemar bersosmed itu masih miskin. Saya punya beberapa contohnya. Seorang profesor riset bercerita begini. Suatu ketika dia tengah melakukan riset di Papua.

Kebetulan saat itu di sana sedang digelar ujian nasional (UN). Jadi dia tergelitik untuk mencermati. Saya tahu dia tidak sedang bercerita secara persis namun menyembunyikan beberapa detail. Tapi, ilustrasinya kurang lebih sama dan tetap mengena. UN itu untuk anak-anak SD. Pertanyaannya pilihan ganda. Salah satunya, ini ilustrasi versi dia, tentang apa itu definisi lokomotif.

Lalu soal berikutnya tentang definisi gerbong. Bagi sebagian anak di Jawa mungkin itu soal lumayan mudah. Tapi, bagi anak-anak Papua yangseumur-umurbelumpernah melihat kereta, kata dia, mereka lumayan bingung. Juga kalau kepada anak-anak Papua ditanya apa itu jalan tol, mereka mungkin tak bisa menjawab. Jangankan jalan tol, jalan beraspal halus saja mungkin belum pernah mereka lewati.

Jika nilai UN anak-anak Papua rendah (sehingga mereka tidak lulus), apakah kita bisa menyebut mereka bodoh? Jelas tidak. Mungkin malah pembuat soalnya yang bodoh. Dia setidak- tidaknya kurang memahami konteks. Soal ujian itu dibuat untuk anak seluruh Indonesia, tetapi pembuatnya mereduksi hanya dengan kacamata Jawa. Bahkan mungkin dengan kacamata Jakarta. Jadi, jelas si pembuat soal gagal untuk memahami konteks.

Gagal Paham

Apa jadinya kalau kita gagal memahami konteks? Kita bisa gagal melihat, gagal fokus, dan akhirnya bisa gagal total. Kalau sudah begini akibatnya bisa sangat fatal. Lagi, saya akan pakai ilustrasi. Seorang pria paruh baya bertanya kepada seorang gadis cantik yang berada di seberang meja. “Mbak, kalau saya mau pakai semalam berapa harganya?” Sang gadis menjawab, “Lima ratus ribu rupiah.”

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar tanya jawab semacam ini. Kalau pikiran Anda agak ngeres , konteks yang terbangun mungkin itu adalah transaksi seksual. Padahal percakapan tadi adalah antara pria paruh baya yang tengah mencari kamar hotel. Hari sudah malam. Ia sudah terlalu letih untuk melanjutkan perjalanan, sehingga memilih untuk berhenti dan beristirahat di hotel.

Beda bukan! Saya sedang suka berilustrasi. Maka, saya sajikan lagi satu ilustrasi tentang orang tua yang memahami konteks. Orang tua yang sudah paruh baya itu mempunyai seorang putri cantik. Usianya sudah layak untuk dilamar. Lalu, datanglah tiga orang pelamar. Pelamar pertama bekerja sebagai pengemudi Metromini. Pelamar kedua, petugas security (satpam).

Pelamar ketiga adalah seorang mahasiswa semester terakhir di Fakultas Ekonomi sebuah universitas negeri yang ternama. Siapa yang dia pilih? Buat yang kurang memahami konteks dan jangkauan visinya hanya setahun atau dua tahun ke depan, mungkinkalautidakpilih pengemudi Metromini ya sang satpam.

Sebab keduanya sudah memiliki penghasilan. Sedang si mahasiswa belum punya penghasilan apa-apa. Isi dompetnya cekak. Malam mingguan saja minta dibayarin ibu bapaknya. Tapi, kalau Anda orang tua yang bijak, memahami konteks dan punya jangkauan pandang yang jauh ke depan, pilih mana? Mudah bukan.

Masa Lalu, Kini dan Mendatang

Bicara soal memahami konteks, saya merasa, negara kita sedang menghadapi masalah yang serius. Akibatnya banyak sekali urusan masa kini yang dilihat dengan konteks masa lalu. Juga, banyak urusan masa depan yang dilihat dengan kacamata masa kini. Akibatnya banyak hal yang tidak nyambung.

Anda tentu masih ingat dengan fenomena maraknya GoJek, GrabBike atau Uber Taxi diJakartasepanjangtahun2015. Banyak kontroversinya. Bahkan kemudian sempat dilarang. GoJekdianggapbukanangkutan umum. Lalu, Uber Taxi tidak bisa disebut perusahaan taksi. Gagasan larangan itu berangkat dari UU Nomor 2 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Di sini yang ingin saya tekankan adalah UU itu disahkan tahun 2009, tetapi dibuat beberapa tahun sebelumnya. Mungkin tujuh atau delapan tahun silam. Padahal, isu GoJek, GrabBike atau ojek online lainnya, dan Uber Taxi, muncul enam tahun sesudahnya. Enam tahun jelas bukan waktu yang singkat.

Apalagi di dunia kita yang begitu cepat berubah. Maka, upaya para pejabat untuk melarang dengan memakai regulasi buatan enam tahun jelas tidak nyambung . Dia gagal memahami konteks lahirnya ojek atau taksi online . Dia memakai konteks masa lalu untuk melihat masa kini. Hasilnya, gagal total.

Buktinya ojek dan taksi online tersebut hingga kini masih tetap beroperasi. Mengapa? Sederhana saja, masyarakat membutuhkannya. Ada pasarnya. Apa jadinya kalau ketika itu pemerintah terus memaksa? Masyarakat bakal mengutuk habis-habisan. Untung presiden kita, Joko Widodo, bisa dengan cepat memahami konteks lahirnya ojek dan taksi online. Ia paham kebutuhan masyarakatnya.

UU-lah yang harus menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat dan segala kebutuhannya, bukan sebaliknya. Coba kalau ketika itu kita bersikeras menerapkan UU tentang LLAJ. Ojek dan taksi online dilarang. Dunia kita tentu berhenti berputar. Kini, kita juga tengah menyaksikan fenomena seperti ini untuk urusan kereta cepat Jakarta-Bandung yang melibatkan banyak kaum intelektual.

Kita melihat dengan konteks masa kini untuk peristiwa yang bakal terjadi pada masa mendatang. Ingat, kereta cepat itu baru bakal beroperasi secepat- cepatnya pada tahun 2018 atau 2019. Bukan 2016! Tapi, kita memakai konteks 2016. Misalnya, harga tiket Rp200.000 yang dianggap kemahalan.

Sekarang mungkin harga tiketnya relatif terasa mahal, tapi dua tahun kemudian? Kalau memakai hitunghitungan sekarang, mungkin perkiraan jumlah penumpangnya dianggap terlalu optimistis. Tapi, dua-tiga tahun kemudian segalanya bisa dengan cepat berubah. Bandara kita yang besar-besar sedang dibangun dan akan menjadi kenyataan, kereta dalam kota baik di dalam Jakarta Raya maupun Bandung raya juga akan menjadi sebuah kesatuan baru.

Turis asing yang kita bidik pasti tak sekecil ini lagi. Bagi Anda yang sering menggunakan jalan tol Jakarta- Cikampek, dan berlanjut ke tol Cipularang untuk menuju ke Bandung atau tol Cipali ke arah Cirebon, tentu merasakan betul kian menjadi-jadinya kemacetan di sepanjang ruas jalan tol Jakarta-Cikampek.

Apalagi kalau long weekend . Kapan itu mulainya? Sekitar setahun lalu, sejak tol Cipali resmi beroperasi. Masih ada lagi konteks lainnya yang kelihatan dikaburkan sejumlah orang atau karena saking semangatnya mengomentari, banyak di antara kita tak sempat baca bahan yang utuh yang valid, sehingga kita marahmarah tak karuan.

Bahkan sebagian orang mengklaim telah melakukan survei, tetapi ditambahkan “survei kecil-kecilan”, yang amat pragmatis dan amat mungkin hasilnya tidak valid. Kita juga dipenggalkan konteks terhadap sebuah informasi. Seperti tentang biaya kereta cepat yang akan dibangun di Iran yang dikatakan jauh lebih murah.

Kalau Anda baca lebih detail, maka Anda akan tahu biaya itu belum termasuk biaya konstruksinya. Jadi hanya upper structure– nya saja. Dikatakan juga proyek ini ada masalah dalam pembebasan tanah, padahal dibuat di atas jalan tol yang minim pembebasan tanah. Ada lagi yang menuding ini melawan Nawacita. Padahal tugas BUMN jelas-jelas dinyatakan undang-undang untuk mengejar keuntungan.

Untuk apa untungnya? Ya jelaslah untuk menjalankan Nawacita itu sendiri. Kalau tidak, apa mau kita diminta bayar pajak yang lebih besar? Mengapa semua info penting itu dipenggal atau terpenggal? Jawabnya mungkin Anda sudah tahu: agar kita terus berkelahi dan tak maju-maju. Hidup dalam ketakutan, dan makin pragmatis. Itulah dunia kita yang begitu cepat berubah. Maka, jangan sampai kita gagal memahami konteks, sehingga gagal melihat, gagal fokus dan akhirnya gagal total.

Rhenald Kasali

Founder Rumah Perubahan

Kompetensi Lulusan Program Keahlian Multimedia

smk nida el-adabi parungpanjang

Sesuai dengan namanya program keahlian multimedia, maka kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa SMK dengan program keahlian multimedia adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan multimedia. Tentu dalam praktiknya tidak semua hal yang berhubungan dengan multimedia harus dikuasai oleh siswa, tetapi ada standar kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa dengan brand lulusan multimedia. Apa saja kompetensi standar tersebut?

Beberapa kompetensi standar tersebut antara lain;

  • Mengoperasikan software dan periferal digital illustration, digital imaging, dan web design
  • Mengoperasikan software dan periferal multimedia, presentation, 2D animation, dan 3D animation
  • Mengoperasikan software dan periferal digital audio, digital video, dan visual effects
  • Mengoperasikan software dan peripheral multimedia
  • Operasional pembuatan grafis
  • Perekaman gambar dan suara, dan
  • Keterampilan dalam proses pra produksi Produksi sampai pasca produksi

Untuk memperoleh kompetensi tersebut siswa akan dibekali dengan pengetahuan keilmuan sesuai bidang dan keterampilan komptensi diatas. Seperti pengenalan dan penggunaan software disain grafis, web disain, edit video, dan keterampilan standar multimedia lainnya.

Dengan pengetahuan keilmuan multimedia yang diperolehnya, siswa SMK dengan program keahlian multimedia akan mampu  Membuat projek : Web Design, Fotografi, Membuat Iklan Layanan Masyarakat, Membuat Iklan Komersial, membuat film fiksi atau non fiksi, membuat film dokumenter, membuat video clip, Design Cover dan isi Majalah, Design Produk untuk sebuah kemasan, Design spanduk, Design Banner, Membuat CD interaktif pembelajaran, Membuat CD persentasi, Company Profile berbasis video dan animasi.

Peran Guru dan Fasilitas

Pada akhirnya kompetensi standar siswa tidak serta merta datang begitu saja, harus ada keseimbangan dari institusi tempat siswa belajar. Tenaga pendidik (khususnya guru produktif) yang profesional sesuai bidang keilmuannya, dan fasilitas pendukung yang cukup akan membantu siswa dalam mendapatkan kompetensi-komptensi seperti yang sudah ditulisakan diatas.

Guru produktif memegang peranan penting dalam proses literasi keilmuan yang diperolehnya secara empiris baik dari bangku kuliah maupun outodidak, atau sesuai profesi yang mereka jalani sesuai bidang keilmuanya. Sementara fasilitas akan menjadi media dalam proses literasi tersebut. Guru produktif akan sangat mudah berinovasi dengan fasilitas yang cukup. Begitupun siswa, akan lebih mudah menguasai skill tertentu yang diberikan guru dan mempraktikannya dengan fasilitas yang cukup tersebut.

Cara agar diterima di sekolah SMK

Masa persiapan ( saat masih sekolah SMP )

  1. Siapkan diri sejak dibangku SMP atau bahkan SD, misalnya dengan mengikuti les tambahan, kursus privat atau belajar ekstra agar bisa mendapatkan ilmu lebih unggul dari siswa lainya.
  2. Raih nilai tertinggi saat ujian nasional, kita tahu bahwa nilai ujian SMP masih digunakan sebagai pedoman dalam seleksi siswa SMK, semakin tinggi nilai ujian maka peluang untuk diterima menjadi besar. untuk itu perlu rajin belajar dan berdoa.
  3. Ikuti lomba antar sekolah, entah itu tingkat kota, provinsi, nasional maupun internasional. jika kita berhasil meraih juara maka bisa menjadi modal tambahan untuk kelancaran masuk sekolah.
  4. Rajin olahraga renang atau sejenisnya yang berpotensi menyehatkan badan, perlu diketahui bahwa untuk masuk SMK ada syarat tinggi badan minimal sekian puluh cm.
  5. Sesekali mengunjungi sekolah SMK incaran, disitu kita bisa melihat-lihat bagaimana suasana sekolah, bertanya pada kakak kelas tentang pengalamanya dll.

Masa pendaftaran ( saat hendak mendaftar sekolah SMK )

  1. Memilih sekolah, Melihat nilai dan kemampuan diri, ini sangat besar pengaruhnya dalam menentukan sekolah mana yang akan dipilih, beberapa sekolah favorit membutuhkan nilai yang tinggi untuk bisa bersaing dengan pendaftar lain. jadi pastikan memilih sekolah SMK yang sekiranya disitu kita masih dapat bersaing dan ada kemungkinan untuk diterima.
  2. Memilih jurusan, sekali lagi melihat kemampuan diri apakah pada jurusan tersebut ada peluang untuk diterima, jika tidak maka bisa mencari alternatif jurusan lain atau mencari sekolah lain yang pada jurusan tersebut lebih sedikit peminatnya.
  3. Disiplin dalam mendaftar, kita perlu mencari tahu dan memantau jadwal pendaftaran lalu mendaftar tepat waktu agar bisa diproses oleh panitia.
  4. Ukur tinggi badan, jika tinggi badan kita lebih tinggi dari minimal persyaratan maka sudah ada modal tambahan untuk diterima.
  5. Berdoa, hendaknya usaha keras kita juga disertai dengan doa agar dipermudah jalan menuju cita-cita.
WhatsApp chat